Selasa, 18 Agustus 2026 Berita Terkini & Terpercaya
Smart Finance BarrSmart Finance Barr
Smart Finance Barr - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Berita › Pakar Pendidikan Tanggapi Rencana Pemberian PR Bac...
Berita

Pakar Pendidikan Tanggapi Rencana Pemberian PR Baca dan Tulis Resensi

Pakar Pendidikan Rencana pemberian PR khusus untuk membaca buku dan menulis resensi oleh Kementerian Pendidikan menuai tanggapan beragam dari para pakar pendidikan.

Pakar Pendidikan Tanggapi Rencana Pemberian PR Baca dan Tulis Resensi

Pakar Pendidikan Rencana pemberian PR khusus untuk membaca buku dan menulis resensi oleh Kementerian Pendidikan menuai tanggapan beragam dari para pakar pendidikan. Gagasan ini muncul sebagai upaya konkret untuk membangun minat baca dan keterampilan literasi siswa yang dinilai masih memprihatinkan. Di satu sisi, langkah ini dipandang sebagai terobosan yang positif, namun di sisi lain, para ahli mengingatkan pentingnya pendekatan yang holistik dan mempertimbangkan berbagai tantangan yang mungkin muncul dalam implementasinya.

Sejumlah pakar melihat sisi positif dari kebijakan ini, terutama dalam menciptakan struktur dan kebiasaan teratur untuk membaca. Dr. Anindito Aditomo, Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Assesmen Pendidikan (BSKAP), menyoroti bahwa PR yang terstruktur dapat memastikan bahwa siswa benar-benar meluangkan waktu untuk membaca. Dalam dunia yang penuh distraksi digital, memiliki “tugas wajib” untuk menyelesaikan sebuah buku bisa menjadi pendorong awal yang efektif bagi banyak siswa.

Lebih lanjut, menulis resensi dinilai sebagai bentuk assessment yang lebih bermakna dibandingkan sekadar kuis hafalan. Aktivitas ini tidak hanya mengukur pemahaman literal siswa terhadap plot cerita, tetapi juga mendorong mereka untuk menganalisis, mengevaluasi, dan merefleksikan isi buku. Proses ini melatih keterampilan berpikir kritis dan kemampuan menulis eksposisi yang sangat penting untuk kesuksesan akademik jangka panjang.

Namun, para pakar juga mengingatkan agar tujuan pemberian PR ini tidak disamaratakan untuk semua jenjang usia. Untuk siswa di kelas rendah, tujuan utamanya haruslah menumbuhkan kecintaan pada membaca. PR seharusnya tidak dirasakan sebagai beban yang justru mematikan minat baca. Pendekatannya perlu lebih menyenangkan, misalnya dengan membacakan cerita oleh orang tua dan mendiskusikannya, alih-alih langsung menuntut resensi formal.

Di tingkat yang lebih tinggi, seperti SMP dan SMA, menulis resensi dapat mulai dikenalkan dengan teknik yang lebih terstruktur. Namun, esensinya tetap harus pada proses apresiasi sastra dan pengembangan sudut pandang pribadi. Pakar kurikulum menekankan bahwa penilaian seharusnya tidak hanya pada tata bahasa dan struktur penulisan, tetapi lebih pada kedalaman analisis dan keaslian pemikiran yang dituangkan oleh siswa.

Salah satu tantangan terbesar yang diangkat oleh pakar adalah kesenjangan akses terhadap buku. Tidak semua siswa, terutama yang berada di daerah terpencil atau dari keluarga kurang mampu, memiliki akses yang mudah ke perpustakaan atau buku-buku yang berkualitas. Kebijakan ini berisiko memberatkan mereka dan justru memperlebar ketimpangan literasi jika tidak diiringi dengan penyediaan sumber bacaan yang merata oleh pemerintah.

Pakar Pendidikan Tanggapi Rencana Pemberian PR Baca dan Tulis Resensi

Baca Juga : Veda Ega Pratama Pilih Nomor Balap Ini, Pembalap Indonesia Siap Debut di Moto3 2026

Tantangan signifikan lainnya adalah beban guru. Memberikan PR resensi berarti menambah beban koreksi yang tidak sedikit bagi para pengajar. Seorang guru dengan jumlah siswa puluhan bahkan ratusan akan kesulitan memberikan umpan balik yang mendetail dan personal untuk setiap resensi. Tanpa dukungan dan mungkin pengurangan beban administratif lainnya, kualitas umpan balik ini bisa menurun dan manfaatnya bagi siswa menjadi tidak optimal.

Oleh karena itu, pakar pendidikan seperti Prof. Aria Nakissa dari Universitas Pendidikan Indonesia menyarankan perlunya pelatihan bagi guru dalam merancang rubrik penilaian resensi yang efektif dan efisien. Guru perlu dibekali kemampuan untuk menilai aspek-aspek kunci seperti analisis karakter, tema, dan gaya bahasa tanpa harus terjebak pada koreksi detail tata bahasa yang memakan waktu. Pemanfaatan teknologi juga bisa dioptimalkan untuk membantu proses ini.

Aspek pilihan buku juga menjadi perhatian serius. Para pakar menekankan pentingnya memberikan kebebasan memilih kepada siswa. Ketika siswa diberikan kesempatan untuk membaca genre atau topik yang mereka minati, motivasi intrinsik mereka untuk membaca dan menulis akan jauh lebih tinggi. Guru dapat memberikan beberapa pilihan atau panduan, tetapi memaksakan satu buku yang sama untuk seluruh kelas berisiko mematikan minat baca siswa yang memiliki preferensi berbeda.

Beberapa pakar menawarkan alternatif bentuk tugas yang lebih variatif. Daripada hanya terpaku pada resensi tertulis, siswa bisa diberikan opsi untuk membuat video resensi, podcast, komik strip, atau presentasi kreatif lainnya. Hal ini tidak hanya mengakomodir gaya belajar yang berbeda tetapi juga membuat tugas menjadi lebih relevan dengan dunia digital yang akrab bagi generasi muda saat ini.

Peran orang tua dan lingkungan keluarga juga menjadi sorotan. PR semacam ini memiliki potensi besar untuk melibatkan orang tua dalam proses literasi anak. Orang tua dapat diajak untuk mendiskusikan buku yang dibaca anaknya, membantu mencari sumber bacaan, atau sekedar menyediakan waktu dan ruang yang kondusif untuk membaca. Kolaborasi antara sekolah dan keluarga ini dapat memperkuat dampak positif dari kebijakan tersebut.

Namun, pakar juga mengingatkan agar beban ini tidak sepenuhnya dibebankan kepada orang tua. Tidak semua orang tua memiliki kapasitas waktu, kemampuan, atau sumber daya untuk mendampingi anaknya mengerjakan PR semacam ini. Sekolah harus sensitif terhadap kondisi ini dan menyediakan dukungan tambahan, seperti bimbingan khusus atau waktu di sekolah bagi siswa yang membutuhkan bantuan.

Dari perspektif sosiologis, kebijakan ini bisa menjadi batu pijakan untuk membangun budaya baca yang lebih kuat di masyarakat. Jika diterapkan secara konsisten dan baik selama bertahun-tahun, generasi muda akan terbiasa untuk tidak hanya membaca, tetapi juga mengkritisi dan membagikan pemikiran mereka tentang sebuah karya. Ini adalah fondasi untuk menciptakan masyarakat yang kritis dan well-informed.

Secara keseluruhan, tanggapan para pakar pendidikan terhadap rencana ini bersifat hati-hati namun optimis. Mereka melihat potensi besar dalam kebijakan ini untuk meningkatkan literasi, tetapi dengan catatan harus didukung oleh implementasi yang matang, memperhatikan kesenjangan, memberdayakan guru, dan memprioritaskan minat baca siswa di atas segalanya. Kebijakan ini tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus menjadi bagian dari gerakan literasi nasional yang lebih komprehensif.

Kesimpulannya, rencana pemberian PR baca dan tulis resensi adalah sebuah langkah yang patut diapresiasi, namun detail pelaksanaannya adalah kunci penentu keberhasilan. Dengan mendengarkan masukan dari para pakar, melibatkan guru dalam perencanaan, dan mempertimbangkan kondisi riil siswa di lapangan, kebijakan ini dapat diubah dari sekadar tugas administratif menjadi sebuah pengalaman belajar yang bermakna, relevan, dan menyenangkan bagi seluruh siswa Indonesia

Tags: BSKAP Kementerian Pendidikan Pakar Pendidikan

Baca Juga: mysonoradentist.com